Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FATETA-IPB berdiri berdasarkan SK Rektor IPB No.001/I3/OT/2008 tanggal 21 Januari 2008 dan menawarkan Mayor SIL

iTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShow
Selamat Datang di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Guru Besar IPB Sumbang Solusi Kebakaran Hutan PDF Print E-mail

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu dan mencapai puncaknya ketika kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Timur pada 1982/1983 yang menghanguskan sekitar 3,6 juta hektar hutan dan lahan. Kebakaran terjadi lagi pada tahun 1994 dengan luas sekitar 5,11 juta hektar, pada 1997/1998 sekitar 10-11 juta hektar, pada 2006 sekitar 6 juta hektar, dan terus terjadi hingga hari ini dengan dampak negatif yang mengkhawatirkan. Sejak awal 1970-an, Institut Pertanian Bogor (IPB) terus mengikuti perkembangan dan berupaya menyumbang saran pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui bidang pendidikan melalui pengajaran mata kuliah Perlindungan Hutan dimana di dalamnya terdapat materi kebakaran hutan.

Seiring waktu peran serta IPB melalui Fakultas Kehutanan dalam pengendalian kebakaran hutan kian meningkat.  Ini terungkap dalam Coffee Morning yang dilaksanakan di Executive Lounge, Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (10/4). Kegiatan ini mendatangkan beberapa narasumber diantaranya: Prof. Yanto Santosa (Guru Besar Ekologi dan Manajemen Satwa Liar, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB), Prof. Bambang Hero Saharjo (Guru Besar Perlindungan Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB), dan Prof. Budi Indra Setiawan (Guru Besar Hidrologi Departemen Teknik Sipil, dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB) memaparkan topik “Solusi IPB untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.”

Ini salah satu bentuk kepedulian IPB dalam memberikan solusi terbaik terhadap persoalan bangsa yakni pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan yang  terjadi setiap tahun. Prof. Bambang dalam kesempatan ini memaparkan tentang kondisi kebakaran hutan dan lahan di Riau pada 2013-2014. Selain itu, Prof. Bambang  juga memaparkan solusi yang telah dilakukan. “Selama ini semak dan rumput ditebas dan dibakar sehingga mengepulkan asap. Sekarang kita memanfaatkan semak dan rumput menjadi pakan. Kita memasukan inovasi IPB dimana rumput  bisa untuk pakan ternak dan bertahan selama dua bulan. Satu hektar bisa 50 ton. Ini bisa membantu program swasembada sapi yang sedang dicanangkan pemerintah. Ini sudah dilakukan di Sumatera Selatan. Fesesnya diolah dengan alat sederhana dan menghasilkan biogas. Sementara urinnya bisa dijadikan pupuk. Jadi  biogasnya bisa menyalakan listrik dan kompor,” kata Prof. Bambang.

Prof. Budi Indra Setiawan memaparkan, lokasi kebakaran tersebar tidak hanya di perkebunan sawit dan hutan tanaman industri, tapi juga kawasan lindung dan konservasi baik di lahan kering maupun di lahan basah. “IPB menawarkan strategi pengelolaan hutan dan lahan bergambut untuk produksi biomassa lestari. IPB menginginkan bagaimana produksi biomassa dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Produksi ini dilakukan salah satunya dengan cara memaksimalkan pendaman karbon, partisipasi masyarakat, dan kemitraan dengan pemangku kepentingan. Nantinya ini akan berkontribusi pada peningkatan pendapatan, kesehatan dan pendidikan yang menjadi tolak ukur IPM,” kata Prof. Budi Indra.

IPB telah mempunyai konsep dan strategi untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta akan segera meresmikan pusat kajian lintas disiplin guna menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Prof. Yanto Santosa menegaskan, “Menurut IPB pencegahan jauh lebih penting daripada penanggulangan. Oleh karena itu, IPB akan mendirikan sebuah pusat. Pusat ini akan melibatkan berbagai disiplin ilmu di IPB. Tujuan utama pusat ini adalah menemukan, mengembangkan serta menyebarluaskan konsep, strategi, dan pedoman pengendalian kebakaran hutan serta lahan yang meliputi aspek pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan lingkungan biofisik pasca kebakaran.” (RF

 
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB Gelar Internasional Workshop Perubahan Iklim dan Dampaknya bagi Pertanian di Asia PDF Print E-mail

Perubahan iklim sangat dirasakan oleh masyarakat dunia saat ini. Fenomena alam seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, taifun dan sebagainya telah dirasakan sebagai akibat dari perubahan iklim saat ini. Perubahan iklim tersebut telah mempengaruhi aktifitas manusia diberbagai bidang termasuk pertanian. Sebagai wujud kontribusi untuk mencari solusi adaptasi perubahan iklim,  Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB (SIL) bekerjasama dengan The University of Tokyo, Jepang menyelenggarakan Internasional Workshop tentang perubahan Iklim yang ketiga dengan tema “Climatic Changes and Evaluation of Their Effects on Agriculture in Asian Monsoon Region”, di Sanur, Denpasar – Bali dari tanggal 17-19 Maret 2014. Acara yang dibuka oleh Kepala LPPM IPB, Dr. Prastowo ini merupakan rangkaian kegiatan kerjasama penelitian dalam kerangka Green Network of Excellent environmental information (GRENE-ei) yang dimulai sejak tahun 2011. GRENE-ei merupakan project yang disupport oleh kementrian pendidikan Jepang selama 5 tahun sebagai sarana bagi peneliti untuk mencari solusi adaptasi terhadap perubahan iklim khususnya dampaknya bagi pertanian di Asia. Pada tahun 2014 ini Departemen SIL IPB sebagai tuan rumah mengundang peneliti dari berbagai negara diantaranya Indonesia, Jepang, Thailand, Filipina, Vietnam, China dan USA untuk memaparkan hasil penelitian mereka dalam upaya mencari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. “Internasional workshop ini merupakan wujud nyata dari peran Departemen SIL dalam menyikapi perubahan iklim yang terjadi sekaligus sebagai sarana membentuk jejaring kerjasama Internasional dengan institusi di luar negeri”, kata Prof. Budi Indra Setiawan, Ketua Departemen SIL IPB.  Dalam kesempatan ini, Departemen SIL mengirimkan 4 orang staf pendidik untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitiannya diantaranya, Dr. Chusnul Arif, dengan judul presentasi “Land and water productivities of paddy field with different water management regimes under system of rice intensification (SRI) in Indonesia, Prof. Budi Indra Setiawan dengan judul: “Change of Tropical Peat Properties due to Forest Fire” Dr. Satyanto K. Saptomo, “Measurement CO2 emission from tropical peat”, Dr. Yudi Chadirin, “Measurement CO2 emission from mineral soil”. Acara workshop ditutup dengan kegiatan kunjungan lapang dengan mengunjungi ke museum subak untuk mengetahui sejarah dan pelaksaaan irigasi subak di Bali serta mengunjungi pengelolaan sawah sistem teras di Jatiluwih di Tabanan Bali (CHA, YCH).

 
Kunjungan MAS SRI ke SIL IPB PDF Print E-mail

Pada hari Jumat 7 Feb 2014, Masyarakat SRI Malaysia (SRI-MAS) melaksanakan kunjungan ke Departemen SIL IPB. Kunjungan ini dilaksanakan  dalam rangka menjalin persahabatan dan kerjasama pengembangan SRI. Rombongan SRI-MAS dipimpin Prof. Dr. Wan Mohtar Wan Yusoff. Selain dilakukan diskusi pengalaman SRI di kedua negara, juga dilakukan penandatangan MOU antara SRI-MAS dan Ina-SRI yang mulai Tahun 2014 ini diketuai Prof.Dr. Budi Indra Setiawan.

 

 
Campus Recruitment PDF Print E-mail

Bagi alumni SIL yang berminat berkarir di perusahaan konstruksi, campus recruitment akan di adakan tanggal 27 Februari 2014 oleh PT Jaya Konstruksi. Info lebih lanjut dapat diperoleh di UPT D-SIL (Ibu Dahlia).

 
Gelar Inovasi Dies IPB Emas PDF Print E-mail

Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, melalui bagian Teknik Sumberdaya Air mengembangkan sistem irigasi otomatis berbasis ketersediaan air di lapangan. Sistem ini menggunakan sensor untuk membaca kadar air di dalam tanah. Apabila kadar air di tanah masih mencukupi, irigasi tidak akan diberikan. Tetapi, apabila kadar air tanah sudah melewati batas kadar air yang diizinkan (set point), maka irigasi akan diberikan.

Konsep sederhana itulah yang kemudian menjadi landasan untuk menciptakan sebuah inovasi baru berupa sistem irigasi otomatis. Dengan sistem ini, jumlah air irigasi mampu ditekan. Selain itu, mampu menghemat tenaga kerja karena sistem ini tidak perlu operator untuk menyiram air sehingga dengan sistem ini proses budidaya tanaman menjadi lebih efisien.

Untuk memperkenalkan sistem ini kepada masyarakat luas, sistem irigasi otomatis kemudian dipamerkan pada acara Inovasi dan Teknologi IPB 2013 pada Dies Natalis IPB ke-50 di Kampus IPB Baranangsiang, 5 -7 September 2013. Diharapkan, dengan berpartisipasi pada pameran ini, diperoleh saran dan kritik yang membangun demi perbaikan sistem irigasi otomatis yang lebih baik dan mudah diterima oleh masyarakat, khususnya para pelaku di bidang pertanian.

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3